Di Timur Negeri Marapu

dsc_7020e-blog

Ah, kalau diingat momen itu, rasanya seperti ada yang kurang. Saya terbiasa travelling bersama tim JJM. Tapi kali ini saya dan adik saya, Fakhri, memilih untuk mengikuti sebuah event besar Jelajah Tanahumba dari Way 2 East untuk ekplor pulau Sumba overland. Saat itu kami memilih untuk mengambil penerbangan malam menuju Denpasar dan menginap disebuah hotel yang tidak jauh dari Bandara Ngurah Rai. Ya, harganya sih ga mahal, hanya saja hotel tersebut berada di dalam sebuah gang kecil tepat diujung gang. Tetapi kami tidak mempermasalahkan itu, karena tujuan kami bukan untuk menikmati hotel, akan tetapi untuk mengejar flight pagi menuju Waingapu, Sumba Timur.

Pagi pun menjelang. Kami kembali bergegas menuju bandara menggunakan taksi. Ya, syukur juga memilih taksi, karena tarifnya tidak terlalu mahal dibanding menggunakan travel/sewa mobil. Sesampai di bandara, kami mencari sarapan karena kebetulan hotel yang kami inapi tidak menyediakan breakfast.

Tiba panggilan untuk boarding. Saat itu kami memilih menggunakan Wings Air yang tarifnya tidak terlalu mahal. Karena kami beli tiketnya itu tidak dari jauh-jauh hari. Apapun kami lakukan lah, yang penting bisa sampai tepat waktu dan berkumpul dengan peserta adventure yang lain.

Tiba di bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu, saya kaget. Wah bandaranya kecil sekali dan saat itu ruang pengambilan bagasi sangat kecil dan sedang adanya renovasi besar. Kemudian kami pun mencari panitia untuk mendaftar ulang sebagai tanda keikutsertaan dalam Jelajah Tanahumba.

PENYAMBUTAN YANG MEGAH

dsc_6062blogTempat pertama yang kami kunjungi adalah pantai Londa Lima. Kami disambut dengan tarian khas Sumba Timur yaitu tari Kabokang. Tarian ini biasanya dimainkan oleh para penari wanita yang menari dengan gerakan anggun dan sangat khas. Tari Kabokang merupakan tarian tradisional yang cukup terkenal di Sumba Timur, dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti acara adat, penyambutan tamu dan pertunjukan seni.

dsc_6124blogPada siang bolong itu pula lah kami makan siang di pinggir pantai dengan aroma laut dan makanan seafood sambil menikmati indahnya pantai Londa Lima yang menjadi salah satu icon Sumba Timur.

dsc_7025ee

Panas dan terik luar biasa ini membuat saya lelah dengan gendongan ransel berisi kamera dan lensa-lensa. Betul-betul membuat rempong dibanding peserta-peserta lain yang hanya membawa tas kecil, pocket camera, atau mirrorless camera dengan tas selempang kecilnya. Tapi tidak apa, saya yakin, keringat tidak akan mengkhianati kerja keras. Alah, apa sih.

Bergegas ke bus rombongan dengan debu-debu berterbangan akibat kemarau yang panjang di Waingapu membuat kami terlihat semakin dekil, dan keringat bercucuran sampai baju basah, memberikan kesan sendiri saat itu. Dibilang rindu iya, dibilang kapok ya kapok juga sih.

dsc_6108blog

Kemudian kami melanjutkan ke destinasi wisata selanjutnya ke Walakiri. Perjalanan ditempuh saya lupa berapa lama, yang jelas lama sekali lah, sampai berjam-jam. Perjalanan terasa sangat panjang karena pinggir kiri-kanan jalan pemandangannya ya itu-itu saja. Kuda, padang rumput gersang, sekolah-sekolah, sapi-sapi kurus, dan selalu berulang. Ibaratnya, kata adik saya, sebelum tidur pemandangannya ‘itu’ bangun tidur pemandangannya ya tetap ‘itu’. Hahaha.. benar juga kalau saya pikir-pikir.

WALAKIRI YANG MENAWAN

Sore pun menjelang. Supir bus kami kelupaan mampir di Walakiri. Dengan kondisi jalan yang kecil dan tidak mungkin untuk putar arah, akhirnya bus kami pun memutuskan untuk berjalan mundur kurang lebih 100 meter dari gerbang kecil Walakiri. Sesampainya di tepi pantai, saya mulai menyiapkan peralatan dan kamera untuk mengambil momen penting di pantai Walakiri ini. Pantai ini dikenal dengan icon pohon bakau yang luar biasa cantik menghiasi pinggir pantai. Ya, kebetulan saya sudah searching dulu gambar-gambar pantai Walakiri ini, hehehe..

dsc_7056blog

Berjalan menuju bibir pantai, saya pun melihat anak-anak pantai sedang asyik bermain air, mereka terlihat sangat riang dan menerima saya dan adik saya yang menyapa mereka dengan sangat ramah. Mereka terus asik bermain padahal kami berdua ingin sekali mendapatkan foto mereka dengan pose terbaiknya. Tapi ya sudahlah, namanya juga anak-anak.

dsc_7081e

Jalan menuju hutan bakaunya, dan wakwaw.. ternyata airnya lagi pasang, terpaksa lah nyebur sampai celana basah total, tas filter pun sedikit tergenang bagian bawahnya, dan untungnya saya cepat sadar. Tak boleh kecewa lah, dengan kondisi apapun, saya harus tetap berusaha untuk mengambil gambar terbaik untuk pantai idaman saya ini.

dsc_6154blog

Dan paling menyedihkannya adalah, semua foto saya di walakiri ini filenya tidak RAW alias jpeg semua. Innalillahi dalam hati saya, segitu cerobohnya saya tidak memastikan terlebih dahulu.

DSC_6151blog.jpg Sunset chaser yang bergelayutan di semak bakau.

DINGIN YANG MULAI MENGIGIT

Matahari telah terbenam sempurna. Semilir angin mulai betiup perlahan. Ya, ternyata benar sekali kata orang-orang, malam hari di Waingapu itu luar biasa dingin. Bus kami terpaksa menutup semua pintu dan jendela agar angin dingin tidak masuk berlebihan. Semua peserta sudah mengenakan jaketnya masing-masing. Ada yang tertidur pulas, termasuk saya nantinya, ada juga yang sedang asik dengan gadgetnya.

Perjalanan terasa begitu cepat karena dibarengi dengan istitahat alias tertidur. Kami semua bermalam disebuah kampung adat Praiyawang. Tidak ada aktivitas spesial malam tersebut selain makan malam bersama dengan berbagai menu hidangan yang sudah warga kampung tersebut siapkan untuk kami semua. Wah, begitu luar biasanya mereka bergotong-royong menyiapkan segalanya untuk kami. Tidak ada kekurangan, nikmat sekali santapan malam tersebut dengan sambal dabu yang menyegarkan.

KAMPUNG ADAT PRAIYAWANG

dsc_6188blog

Pagi cerah dengan cuaca dingin yang super dahsyat menyambut. Sarapan pagi sudah disiapkan untuk kami. Sayangnya, air untuk mandi sudah habis. Hal tersebut karena jumlah peserta yang ratusan orang mengantri untuk mandi dan keperluan lainnya, hingga akhirnya air terpaksa harus diambil dari sungai. Tapi sudahlah, saya memutuskan untuk tidak mandi. Cukup ganti baju dan semprotkan parfum agar tidak terlalu bau keringat.

dsc_6247blog

Warga Sumba terbiasa dengan memelihara hewan seperti babi, kerbau, dan kuda. Hewan-hewan tersebut merupakan hewan yang dapat menjadi belis atau mas kawin juga untuk upacara adat lainnya. Saya berjalan menuju ujung kampung dan menemukan sepasang kuda dalam kandang. Inikah yang namanya kuda Sumba? Mungkin saja.

dsc_6250blog

Adat istiadat kampung ini masih tergolong terpelihara. Ditengah maraknya modernisasi, mereka lebih memilih untuk mempertahankan budaya leluhurnya. Kegiatan mereka sehari-hari adalah bertani dan menenun. Kedua hal itu yang dapat memberikan nafkah untuk keluarga mereka. Seorang guide kami mengajak kami berkeliling kampung untuk melihat-lihat kegiatan masyarakat Praiyawang. Dari mulai upacara penyambutan dengan sirih pinang sampai jual beli tenun.

dsc_6263blog

Saya termasuk orang yang suka mengoleksi barang-barang dan kerajinan suatu daerah. Kebetulan di kampung tersebut menjual berbagai kain tenun. Nah, adik saya ini sedang bertanya-tanya mengenai arti motif dari tenunnya.

dsc_6292blog

Seorang nenek juga menyapa kami dengan senyuman lembutnya. Tidak tunggu lama, langsung saja ambil kamera dan siap untuk memotretnya. Sungguh beruntung mendapatkan momen ini.

dsc_7175blog

Tidak jauh dari lokasi tersebut, kami disambut oleh kepala suku Praiyawang yang banyak bercerita mengenai asal usul kampung ini. Begitu ramahnya warga ini membuat saya begitu tersanjung. Salah seorang pendamping kami asal Waingapu, mas Ariez, sempat bercerita mengenai keramahan masyarakat Sumba Timur. Hal ini betul-betul saya rasakan dan tidak sekedar lisan penghibur saja.

dsc_7192blogKepala suku Kampung Praiyawang

TRAGEDI DAN PEMBELAJARAN

dsc_6303blog

Perjalanan kembali dimulai. Jarak yang ditempuh dari Praiyawang menuju destinasi selanjutnya memakan waktu selama 3 jam. Yang saya lakukan di bus hanyalah tidur. Sekali lagi karena tidak ada pemandangan lain selain padang gurun tandus dan pohon kering. Terbangun dari tidur akibat guncangan bus kami. Ternyata sudah memasuki jalan menuju sebuah pantai yang super cantik, yaitu Watuparunu.

dsc_6315blog

Jika mengingat gambar ini, hati saya seakan terpukul sekali. Begitu mengerikan tragedi yang terjadi pada pantai ini. Semua ini pasti ada hikmahnya. Di lokasi inilah kamera DSLR Nikon D810, Lensa 14-24mm f/2.8 Nano, dan Haida ND adik saya, Fakhri Andindita, nyemplung ke pantai dan terendam. Saya berada sedikit jauh dari Fakhri. Tetapi teriakannya dan teman seperjalanan membuat saya reflek melihat apa yang terjadi. Wah benar saja, saya datangi dan melihat tripod, dan lain sebagainya sudah roboh. Haida filter-nya sudah pecah berkeping-keping. Tak pikir panjang, saya ambil air mineral, alhamdulillah saya membawanya dan masih cukup penuh, untuk mengguyur kamera adik saya itu. Langsung terbayang, akan kerusakan, biaya ini itu, wah perasaan saya campur aduk saat itu.

Kemudian saya ambil pelajaran, untuk segera mengamankan tripod dan kamera saya agar tidak mengalami hal serupa. Saya langsung down sekali. Ini baru hari kedua tapi kamera sudah seperti itu. Tentu yang lebih down ya adik saya. Mengingat kamera dan lensa yang dipakainya adalah kamera dan lensa utama untuk landscape. Ya, semua sepertinya karena gangguan serangga laut yang seperti lalat, jika hinggap di kaki, terasa sakit.

Saya berusaha menghibur, namun tampaknya tidak terlalu berpengaruh. Kemudian kami diajak oleh ketua tim untuk refreshing ke atas tebing untuk rehat sejenak. Terlihat raut wajah adik saya itu tidak ceria. Sesampai di atas tebing, adik saya hanya duduk, cek kamera dan lensa yang sudah mulai ngadat. Saya ajak untuk naik lebih atas klagi, tapi sepertinya sudah tidak mood.

DSC_6326.jpg

Saya berjalan menuju puncak tebing sedangkan yang lainnya turun. Tidak mau rugi, saya teruskan tracking ke puncak tebing untuk melihat Watuparunu dari atas. Angin mulai terasa kencang ditemani terik matahari yang sangat menyengat. Tidak heran, saat itu pukul 12 siang waktu setempat.

 DSC_6324blog.jpg

Pemimpin tim kami pun mengingatkan agar segera turun untuk dapat makan siang. Baiklah, saya segerakan untuk ambil gambar dari atas tebing. Sempat mengganti lensa 85mm untuk mendapatkan gambar tebing dengan lebih zoom. Bergegas setelah itu saya pun menjemput adik saya yang masih duduk di bawah bersama tim kami dari UK, Ayaz Sabir, yang sedang asyik mengobrol. Dan kami pun turun menuju meeting point untuk selanjutnya makan siang di pantai Kalala.

dsc_6327eblog

Merinding di Wairinding

dsc_7234blog

Perjalanan akhir untuk Kabupaten Sumba Timur diakhiri di bukit Wairinding. Sebuah destinasi paling favorit sejak adanya proses syuting untuk film Pendekar Tongkat Emas di lokasi ini.

dsc_6331e

Sesampainya di lokasi, saya pun bergegas menaiki bukit yang ternyata sudah banyak orang di atas bukit menanti senja. Segera saya siapkan tripod dan cekrek. Dari sudut barat pun tak kalah menarik, matahari mulai meninggalkan kami semua. Pemandangan cantik ini benar-benar membuat semua tertuju padanya. Wah, tanpa panjang lebar inilah yang kami dapatkan saat itu.

dsc_6346blog

Tak jauh dari lokasi, ternyata ada seorang pemuda dan anak sedang menunggangi kuda. Ya cukuplah untuk diarahkan menjadi model dadakan. Hehehe.. Lumayan lah, buat stock photo.

DSC_6368blog.jpg

Rasanya singkat sekali saat itu. Hati ini terus menginginkan untuk kembali merajut cerita dari balik lensa di tanah seribu bukit ini. Semoga lain waktu dapat kembali dan berbagi cerita-cerita baru untuk mengenalkan kepada banyak orang, bahwa Sumba itu INDAH!

Advertisements

4 thoughts on “Di Timur Negeri Marapu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s