Sumba Tengah nan Sejuk

dsc_7269blog

Gema takbir sayup-sayup terdengar di pagi yang sangat dingin. Hari itu bertepatan pada Idul Adha 1437H. Hati ini terus bertakbir bersama dengan suara sayup-sayup yang terdengar. Kami bermalam di Kampung Adat Kabondok saat itu. Rumah-rumah adat yang sudah tidak lagi menggunakan alang-alang sebagai atap banyak terlihat di kabupaten ini. Satu alasan yang logis adalah penggunaan seng lebih aman dari kebakaran dan biaya jauh lebih murah. Namun demikian, masyarakat Kabondok masih tetap menjunjung tinggi adat istiadat yang terus bertahan hingga turun temurun.

dsc_7258blog

Di sudut timur, terlihat seekor kerbau dan seekor sapi yang menjadi salah satu simbol kemakmuran masyarakat Sumba. Saking dinginnya udara pagi itu, sampai-sampai suhu tubuh kerbau dan nafasnya terlihat jelas sekali disekitar tubuhnya. Saya sempat mengira, daerah ini tidak dingin seperti di Waingapu, hanya saja tebakan saya meleset jauh.

Rencana hari itu adalah hunting foto satwa burung endemik Sumba Tengah. Rencana saat itu berangkat dari Kabondok menuju Taman Nasional Manupeu Tanah Daru pukul setengah 6 pagi waktu setempat. Hanya saja akhirnya kami berangkat sekitar pukul 8 pagi.

MENUJU TAMAN NASIONAL MANUPEU TANAH DARU

dsc_6426blog

Perjalanan menuju Taman Nasional Manupeu Tanah Daru membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Kami ditemani oleh suatu organisasi Gen Hijau, yang merupakan pencinta alam dan pengawas Taman Nasional. Dengan kondisi jalanan yang kurang bagus, membuat kendaraan kami berjalan perlahan agar tidak terjadi guncangan yang terlalu keras. Debu-debu berterbangan seiring deru mesin dan gesekan ban pada jalan yang akhirnya saya lebih memilih menutup jendela saja daripada terganggu dengan debu yang beterbangan.

dsc_6431blog

Pemandangan yang dapat dilihat hanyalah padang rumput kering dengan beberapa bunga ilalang juga bunga yang saya tidak tahu jenis apa, tapi tampak seperti bunga Sakura. Tak ingin berlama, kami segerakan menuju spot utama untung hunting foto burung-burung endemik khas Sumba Tengah.

dsc_6434blog

Kami akhirnya sampai di lokasi. Terlihat seperti hutan lindung yang benar-benar terjaga. Kebetulan juga kami bertemu dengan guide sekaligus ‘pawang’ yang mengetahui lokasi-lokasi burung yang bisa kami temui.

dsc_6408blog

Sayang sekali, beliau mengatakan kami sudah TELAT! Beliau mengatakan jika ingin melihat burung-burung tersebut, harus sudah stand by dari jam 5 subuh. Wow, pagi sekali. Sedikit kecewa juga, seolah perjalanan ini sia-sia. Tapi beliau berusaha untuk menghibur kami dengan mencoba mengantarkan kami ke dalam hutan.

DSC_6399blog.jpg

Tak jauh kami berjalan, terlihat seekor burung nuri yang sedang bertengger di pohon yang cukup tinggi. Sepertinya burung ini sedang membersihkan tubuhnya seusai mencari makan. Burung-burung ini  akan mudah ditemui jika kami datang lebih awal, begitu lah kata guide lokal kami.

dsc_6403blog

Berjalan menyusuri semak dan pepohonan, kembali kami menemukan seekor burung betet berwarna hijau. Tampaknya kawanan burung-burung ini sudah berpencar sehingga sulit sekali menemukan dalam jumlah yang banyak.

dsc_6416blog

Seolah tidak ada harapan untuk bertemu dengan jenis julang Sumba, akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan lokasi. Sambil berjalan, kami terus saja melihat ke sekitar untuk menemukan jenis burung lainnya. Dan benar saja, kami berhenti sejenak untuk melihat seekor burung yang saya lupa namanya.

dsc_6422blog

Kembali berjalan melewati jalanan yang tidak rata dan kami dikagetkan dengan terbangnya seekor burung berwarna hitam, cukup besar. Barangkali itu seekor gagak dan sempat saya foto dari kejauhan. Sebenarnya masih banyak spesies-spesies burung di Taman  Nasional Manupeu Tanah Daru ini yang jumlahnya ada sekitar 87 jenis burung. Sekali lagi kami menyesal sekali datang terlambat.

Perjalanan pun berlanjut. Tidak ada pemandangan yang begitu menarik hati pikir saya hingga akhirnya kami bertemu seorang mama (ibu) yang baru kembali dari sungai dengan membawa jerry can berisi air untuk dibawanya pulang.

dsc_6442ewm

Tidak jauh dari lokasi itu pun, kami kembali menemukan anak-anak perempuan yang hendak mandi bersama teman-temannya.

dsc_6461w

Ada yang menyambut kami dengan senyuman lebar.

dsc_6464w

Dan ada pula yang hanya menatap kami dengan tatapan curiga. Ya, mungkin orang tua mereka sudah mengingatkan agar berhati-hati dengan orang asing. Ada benarnya juga.

dsc_6471w

AIR TERJUN LAPOPU

Rencana kami selanjutnya adalah mengunjungi sebuah air terjun di perbatasan Sumba Tengah dan Sumba Barat. Namun perjalanan kami masih jauh sekali. Sempat berganti mobil dengan menyesuaikan kondisi jalanan yang katanya lebih curam dan terjal.

Perjalanan kami memakan waktu yang sangat lama, padahal jarak tempuh tidaklah begitu jauh. Hal ini diakibatkan kondisi jalanan yang tidak bagus dan bergelombang. Sehingga terkadang kami harus berjalan pelan dan saling menunggu mobil peserta lain yang tertinggal di belakang.

DSC_6547blog.jpg

Singkat cerita, sampai juga kami di pos Lapopu. Hanya 1 mobil Ford Ranger yang saya, adik saya, dan teman saya lah yang bisa turun ke bawah sini. Tugasnya bolak balik menjemput peserta karena mobil sekelas Avanza saja tidak akan mampu turun menuju lokasi ini.

Di lokasi ini tersedia toilet dan kamar mandi dengan sumber air bersih yang sudah disaring. Dekat lokasi ini pula ada sebuah gardu pembangkit listrik tenaga air. Wah, sempat saya mencoba airnya, super sejuk sampai rasanya ingin mencoba untuk di minum.

Untungnya, jarak menuju air terjun ini sudah dibuat sedemikan rupa agar memudahkan para pengunjung berjalan menyusuri tepi sungai dan menyebrangi ke tepi lainnya. Hanya saja yang saya khawatirkan saat melewati jembatan bambu yang sudah tua. Bukannya saya tidak berani dengan air dan tidak bisa berenang, hal ini karena saya membawa tripod, kamera, dan lensa dalam jumlah yang banyak. Jika terjadi apa-apa, kan repot juga, pikir saya. Tapi alhamdulillah, semua berjalan lancar. Hanya pikiran negatif yang lewat sebentar saja.

“Drrrrrr….” mulai terdengar, dan Masya Allah, begitu cantiknya air terjun ini. Dasar sungainya yang biru dan airnya yang sejuk ditambah cuaca yang sangat mendukung, membuat hati menyebut nama-Nya. Begitu cantiknya hingga saya sangat bersemangat untuk mengambil gambar Air Terjun Lapopu yang luar biasa ini.

dsc_6517blog

Ternyata sudah banyak juga wisatawan yang datang terlebih dahulu dan mandi di sekitar air terjun. Bahkan sempat saya melihat mereka berani memanjat tebing hingga paling atas. Ya mungkin mereka ingin terlihat keren saat posting di social media. Boleh saja sih, asalkan tetap waspada dan jaga diri agar tidak celaka.

dsc_7272blog

Beberapa teman kami yang terlihat sudah lelah hanya duduk dan menikmati indahnya Lapopu. Bahkan salah seorang dari kami ada yang sampai tertidur di sebuah kursi bambu dibawah pohon rindang. Alahai, nikmat sekali.

dsc_7286

Ya begitulah akhir cerita kami di Sumba Tengah. Kami kembali ke pos untuk makan siang dan bersiap menuju Sumba Barat tepat waktu, karena kami akan di sambut oleh Bupati setempat dengan upacara yang luar biasa mengagumkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s