Menuju ke Barat

SAMBUTAN ISTIMEWA

dsc_6658blog

Tidak menyangka bahwa rombongan kami ternyata benar-benar disambut dengan istimewa di kabupaten Sumba Barat. Pantas saja, kami mendapat kabar dari panitia agar segera bergegas dari Lapopu, yang berada di perbatasan Sumba Tengah dan Sumba Barat, agar segera menyambangi Kampung Adat Praijing di Sumba Barat.

Kampung Adat Praijing terletak di Kecamatan Waikaibubak, Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Berlokasi di Kecamatan Kota Waikabubak, dengan jarak 3 km dari pusat kota. Kondisi jalan menuju kampung berupa jalan aspal dengan kondisi baik. Kondisi jalan di dalam kampung berupa jalan tanah.

dsc_6676blog

Acara pembukaan dan penerimaan pun dilangsungkan. Dengan menggunakan bahasa daerah, yang tentu saya tidak mengerti apa artinya, acara pun berlangsung dengan sangat lancar. Saya sempat berbincang dengan teman rombongan dari UK bahwa saya tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Saya hanya ingin mengajaknya mengobrol sore itu. Namun dia dengan penuh tawa mengatakan, “nah, sekarang kau tahu kan bagaimana saya tidak mengerti apa-apa saja yang kalian bicarakan (dengan bahasa Indonesia)” ujarnya dengan bahasa Inggris. Tawa kami pun pecah diantara suara sambutan tersebut.

dsc_6628blog

Masyarakat Kampung itu pun benar-benar terlihat antusias dengan acara ini. Senyum sumringah, tawa anak-anak, juga ribuan pasang mata tertuju pada sebuah tarian Kataga. Tarian yang merupakan simbol perang namun tarian ini juga digunakan sebagai upacara penyambutan tamu kehormatan di desa mereka. Tarian ini biasanya dimainkan oleh para penari pria dengan berkostum adat dan dilengkapi senjata seperti pedang dan perisai. Tari Kataga ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di NTT, khususnya Sumba Barat yang merupakan tempat asalnya.

dsc_6641blog

Konon pada jaman dahulu di Sumba pernah terjadi perang antar kampung atau suku yang disebut dengan perang tanding. Dalam perang tanding tersebut, siapa yang menang harus membawa pulang kepala musuh yang kalah sebagai simbol kemenangan mereka. Kepala tersebut kemudian digantung di Adung pelataran/ Talora. Apabila ada pihak ketiga melakukan perjanjian damai pada kedua pihak, maka tengkorak kepala tersebut bisa dibawa pulang kembali oleh pihak musuh sebagai tanda perdamaian.

Setelah perjanjian perdamaian tersebut selesai, biasanya para prajurit yang ikut dalam perang tanding akan memperagakan cara mereka berperang, bagaimana mereka menyerang, menangkis, menghindar, hingga memotong kepala lawan. Namun setelah tradisi perang tanding sudah dihilangkan, maka mereka menjadikan gerakan tersebut menjadi sebuah gerak tari yang saat ini disebut dengan Tari Kataga. Kataga sendiri berasal dari kata katagahu yang berarti kegiatan memotong kepala korban peperangan.

dsc_6696blog

Saya melihat ke berbagai sudut penonton. Dari yang muda sampai yang tua benar-benar menikmati acara ini. Uniknya, walaupun mereka tinggal di kampung yang benar-benar terjaga adat istiadatnya, tampak sebagian besar dari anak muda sudah menggunakan smartphone hingga tablet untuk mengabadikan perhelatan ini.

dsc_6694blogAnak dan Ayahnya

dsc_6568blog

Dari sudut utara saya melihat sekumpulan penari Kataga yang sudah siap menari menggantikan penari-penari sebelumnya. Mereka berbincang-bincang dan terkadang ikut bertepuk tangan melihat rekan-rekannya berhasil mempertunjukkan kehebatannya.

dsc_6653blog

Tak sengaja saya melihat mba Laura, mba Hani, dan mas kru (lupa namanya) dari MNC TV yang meliput acara pada sore itu, sedang menunjukkan hasil jepretannya kepada salah seorang panitia Kampung Praijing. Dan dari sudut barat pun terlihat teman seperjalanan saya, mas Anthonius Umbu Bulumanu, yang biasa dipanggil mas Tony atau mas Umbu, tampak memerhatikan segalanya dengan seksama. Mungkin tak ingin melewatkan momen apapun dari acara ini. Saya tahu, karena mas Umbu ini adalah asli Sumba yang tinggal di Blitar namun baru kali ini mengikuti perhelatan hebat ini.

dsc_6622blog

TARI KATAGA

dsc_6585blogTarian Kataga pun dimulai. Suasana semakin meriah dengan munculnya penari-penari  gadis belia yang mengiringi penari-penari senior. Saya ingat sekali, saat itu mas Umbu sedang menerbangkan drone-nya untuk meliput acara tersebut. Tampak seorang gadis belia terkagum dengan benda yang diterbangkan itu.

dsc_6700blogMelihat Drone

SAMBUTAN MEGAH BUPATI SUMBA BARAT

dsc_6741blog

Malam menjelang tapi tak menyurutkan semangat para peserta dan warga setempat. Tiba saatnya tamu istimewa saat itu memberikan sambutan kepada kami semua. Ya, beliau adalah Drs. Agustinus Niga Dapawole yang menjabat sebagai Bupati Sumba Barat sampai saat ini. Tepuk tangan pecah meriah mendengar sambutan yang begitu megahnya.

dsc_6749blogTiba-tiba seorang nona setempat menawarkan kami segelas kopi Sumba dengan aroma yang sangat menggoda. Nona tersebut menyambut kami dengan sangat ramah. Menawarkan kami makan malam yang istimewa, bersenda gurau, dan membaur dengan kami semua. Namanya adalah Merry Poro. Gadis belia yang enerjik dan ceria, yang selalu menemani kami selama di Sumba Barat ini. Usut punya usut, ternyata Merry adalah keponakan dari Bupati Sumba tersebut. Wah betapa kagetnya saya saat itu.

Malam semakin larut dan acarapun selesai. Kami berkemas menuju rumah-rumah yang telah disediakan oleh warga untuk kami tinggal selama satu malam. Saya dan beberapa teman mendapat rumah di ujung kampung ini dan kebetulan sangat dekat dengan lokasi MCK. Wah Alhamdulillah, bisa mandi akhirnya.

DSC_6753blog.jpg

Kamar sudah siap, hanya saja saya dan teman-teman tidak boleh melewti suatu batas yang sudah dipasangkan tanda, mungkin itu weri (penjagaan) atau apalah. Kami menurut saja sebagai bentuk penghormatan adat dan budaya mereka.

Baru saja hendak menarik sleeping bag, pasukan anak-anak memanggil nama saya keras sekali dari pintu rumah. “Om Luthfi, main sulap dooong!”. Waduh, saya langsung curiga, pasti ini ulah adik saya yang mengompori mereka. Awalnya saya tolak, tapi mereka terus memaksa yang pada akhirnya saya luluh juga.

praijing_5.jpgPhoto courtecy of http://www.fakhrianindita.com

Saya bermain sulap kartu dengan mereka . Saya kebetulan membawa kartu karya saya bersama teman-teman saya dengan brand Trikard Projects. Kartu ini sudah sangat dikenal di dunia persulapan mancanegara, gapapa ya promosi sedikit. Sengaja saya bawa ke Sumba untuk mengenalkannya kepada masyarakat setempat mengenai kartu saya itu. Cukup lama juga saya bermain dengan pasukan bocah itu hingga tepat pukul sepuluh waktu setempat, saya meminta mereka agar beristirahat karena esok harus berangkat sekolah. Acara sulap pun bubar dan saya segera istirahat setelah seharian menelusuri indahnya Sumba.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s