Budaya dan Tradisi

DSC_6780small.jpg

Suara anak-anak dan warga sayup-sayup terdengar. Suara anjing yang menyalak meminta makan juga sudah mulai terdengar dibeberapa sudut rumah. Ternyata hari sudah mulai terang namun mata sulit sekali terbuka akibat stamina yang terkuras selama berada di Tanahumba ini.

Saya melihat saat itu jam menunjukkan pukul lima kurang. Matahari masih belum menampakkan dirinya. Teringat bahwa di kampung Praijing ini ada satu spot cantik untuk melihat sunset dan sunrise. Saya hanya berdua dengan adik saya menuju lokasi tersebut. Udara yang dingin masih cukup terasa walaupun tidak sedingin di Waingapu dan Kabondok. Perjalanan melewati rumah-rumah warga, bertegur sapa dengan pemilik rumah juga peserta adventure lainnya sembari terus melangkahkan kaki ini menuju lokasi pemotretan.

PANORAMA ALAMI PRAIJING

DSC_7294blogsmall.jpg

Sesampai di lokasi, saya terkagum dengan pemandangan dari sini. Betul-betul alami dan terlihat cantik sekali pagi itu. Pemandangan yang mengingatkan saya saat berada di Kampung Bena di Flores. Tak kalah cantiknya, Praijing benar-benar membuat saya merasa bersyukur bisa berada di sana saat itu.

Terlihat dari balik atap jerami rumah penduduk ada asap membumbung tinggi. Apa gerangan yang terjadi? Saya hanya berpikir barangkali warga sedang menyiapkan masakan dan minuman hangat untuk disediakan kepada para peserta adventure. Hanya bisa berucap terima kasih atas segala perhatian dan tenaga yang dicurahkan untuk kami semua. Saya mulai menyiapkan peralatan untuk memotret lansekap ini. Didukung dengan cuaca dan cahaya yang sangat baik saat itu sungguh sangat memudahkan kami. Alhamdulillah.

DSC_6804blog-small.jpg

Tak lama setelah kami memngambil beberapakali jepretan, teman seperjalanan yang menginap di lokasi atas kampung ini pun muncul dan menyapa kami. Bercertia betapa serunya mereka mencari rumah singgah dalam kondisi yang sangat gelap. Mereka bercerita bahwa ada pohon yang dikeramatkan oleh penduduk dan konon katanya suka sekali muncul penampakan di sekitar lokasi tersebut. Terlihat mereka juga sudah siap menerbangkan drone mereka, saya dan adik saya memilih untuk berpindah lokasi agar tidak mengganggu kegiatan mereka yang baru saja dimulai.

Saya mulai mengeksplor lokasi lain dari kampung ini, dan menemukan pemandangan yang saya rasa ini cukup menarik. Seorang gadis kecil sedang mencoba menyisir rambutnya kala itu. Terlihat seperti hendak berangkat sekolah dengan seragam Sekolah Dasar yang dikenakannya. Anjing piaraannya pun turut mendampingi  tuannya. Lucu sekali.

DSC_6809blog-small.jpg

Melihat saat itu sudah pukul setengah tujuh pagi, saya pun bergegas untuk kembali ke ‘rumah’ untuk membereskan segalanya, sarapan, mandi, gosok gigi, dan lainnya. Tak ingin melewatkan momen yang ada, saya selalu mencoba mencari potret anak-anak di kampung ini. Dan benar saja, banyak anak-anak yang semalam saya sulapin sudah berkumpul di depan ‘rumah’ saya.

DSC_6823blog-small.jpg

Mereka menebarkan senyum dan canda yang memeriahkan suasana pagi itu. Ada yang request untuk saya dapat bermain sulap lagi. Tapi saya tolak, karena saya sudah terlalu lepek dan ingin segera mandi  mumpung kamar mandi sedang kosong.

DSC_6819blog-small.jpg

Yuni, gadis Praijing yang saya sulapin tadi malam pun ada di lokasi. Dia tampak sumringah dan terus saja melepas senyumnya, terutama saat saya hendak mengambil potretnya, selalu saja membuang mukanya karena malu.

BERGEGAS MENUJU PASOLA

IMG-20160913-WA0012e-small.jpg

Selesai sarapan dan mandi, kami pun siap menuju truk untuk menuju kegiatan Pasola. Kegiatan Pasola rencana akan diadakan di kecamatan Wanokaka. Tapi sebelum berangkat, kami dibagikan kaos terlebih dahulu oleh DAL Adventure sebagai kostum resmi untuk kegiatan Jelajah Tanahumba ini. Tak ingin membuang waktu, kami pun segera berfoto bersama selagi semua memakai kaos yang serupa didampingi pemilik rumah yang kami inapi. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas tumpangan yang telah diberikan.

20160913_081113small.jpg

Bergegas jalan menuju truk. Pukul delapan pagi sudah sangat terik saat itu. Tak ingin kulit terus terbakar, saya dan beberapa rombongan bersegera naik ke atas truk. Tidak menyangka, ternyata nona Merry turut mendampingi kami dan tak kalah herannya, kenapa dari sekian banyak truk, nona Merry hanya mendampingi rombongan fotografer saja.

BERPUTAR-PUTAR

Tidak tahu mengapa seluruh rombongan terus berputar-putar dan bolak-balik dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Saya bertanya ada apa ini. Apakah tidak ada yang tahu lokasi Pasola tersebut. Perasaan kecewa terus berdatangan karena matahari sudah semakin tinggi. Saat itu pukul 10 pagi hari yang sangat panas dan berdebu. Saya sudah dapat pastikan pasti hasil foto nanti akan dihantui bayangan keras akibat matahari yang luar biasa panasnya.

Singkat cerita, pukul 11 kurang akhirnya kami sampai di lokasi. Sebuah bukit yang sangat tinggi, terlihat perbukitan gersang yang menguning dan bekas pembakaran rumput, ratusan peserta dan panitia sudah berkumpul. Puluhan ekor kuda pasola dan penunggangnya sudah bersiap dengan lembingnya.

PASOLA

DSC_7197blog-small.jpg

Festival Pasola merupakan festival tahunan yang dirayakan masyarakat Sumba Barat saat memulai masa tanam. Festival ini juga menjadi wisata budaya di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Dalam perayaan ini, masing-masing kampung akan beradu ketangkasan dengan menunggang kuda sambil melempar lembing ke lawan sampai lawan berdarah.

Festival Pasola ditentukan berdasarkan bulan serta melalui rapat para Rato (pendeta adat). Selain itu, penentuan juga bisa dilakukan dengan cara melihat tumbuhan-tumbuhan tertentu yang berbunga pada saat menjelang Festival Pasola. Perayaan ini sebenarnya untuk menyambut masa panen dan memprediksi hasil panen. Semakin banyak darah keluar saat Pasola, masyarakat setempat percaya hal itu berarti hasil panen berlimpah.

DSC_7031blog-small.jpg

Menurut cerita rakyat Sumba, pasola berawal dari seorang janda cantik bernama Rabu Kaba di Kampung Waiwuang. Rabu Kaba mempunyai seorang suami yang bernama Umbu Amahu, salah satu pemimpin di kampung Waiwuang. Selain Umbu Amahu, ada dua orang pemimpin lainnya yang bernama Ngongo Tau Masusu dan Bayang Amahu. Suatu saat, ketiga pemimpin ini memberitahu warga Waiwuang bahwa mereka akan melaut. Tapi, mereka pergi ke selatan pantai Sumba Barat untuk mengambil padi. Warga menanti tiga orang pemimpin tersebut dalam waktu yang lama, namun mereka belum pulang juga ke kampungnya.

DSC_7040blog-small.jpg

Warga menyangka ketiga pemimpin mereka telah meninggal dunia, sehingga warga pun mengadakan perkabungan. Dalam kedukaan itu, janda cantik dari mendiang Umbu Dula, Rabu Kaba terjerat asmara dengan Teda Gaiparona yang berasal dari Kampung Kodi. Namun keluarga dari Rabu Kaba dan Teda Gaiparona tidak menyetujui perkawinan mereka, sehingga mereka mengadakan kawin lari. Teda Gaiparona membawa janda tersebut ke kampung halamannya. Beberapa waktu berselang, ketiga pemimpin warga Waiwuang (Ngongo Tau Masusu, Bayang Amahu dan Umbu Amahu) yang sebelumnya telah dianggap meninggal, muncul kembali di kampung halamannya. Umbu Amahu mencari isterinya yang telah dibawa oleh Teda Gaiparono. Walaupun berhasil ditemukan warga Waiwuang, Rabu Kaba yang telah memendam asmara dengan Teda Gaiparona tidak ingin kembali.

DSC_7109blog-small.jpg

Kemudian Rabu Kaba meminta pertanggungjawaban Teda Gaiparona untuk mengganti belis yang diterima dari keluarga Umbu Dulla. Belis merupakan banyaknya nilai penghargaan pihak pengambil isteri kepada calon isterinya, seperti pemberian kuda, sapi, kerbau, dan barang-barang berharga lainnya. Teda Gaiparona lalu menyanggupinya dan membayar belis pengganti. Setelah seluruh belis dilunasi diadakanlah upacara perkawinan pasangan Rabu Kaba dengan Teda Gaiparona. Pada akhir pesta pernikahan, keluarga Umbu Dulla berpesan kepada warga Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam wujud pasola untuk melupakan kesedihan mereka karena kehilangan janda cantik, Rabu Kaba

pasola-blogsmall

Kegiatan ini betul-betul meriah. Terlihat dari para pemain Pasola baik muda maupun yang sudah sepuh tampak menikmati kegiatan ini. Tepuk tangan dan teriakan sesekali terdengar. Tetap, kita harus waspada dengan lembing yang dilemparkan agar tidak mencederai kita. Karena, banyak cerita bahwa para pemain Pasola ini tertombak hingga tewas dalam upacara ini, walaupun tidak terhitung sebagai tindak kejahatan (karena ini sudah tradisi bahwa yang tewas akan menjadi terhormat), tetap kami harus waspada.

DSC_7191blog-small.jpg

Hari semakin terik, pemain Pasola semakin bersemangat hingga pada akhirnya mereka membuka kaos agar lebih nyaman. Mereka terus menunjukkan kehebatannya dan terus memacu kuda mereka untuk terus bergerak dan menghindar dari lemparan lembing lawan. Upacara pun akhirnya selesai. Kami pun bergegas menuju sebuah kendaraan pengganti truk untuk bergegas ke sebuah lokasi pacuan kuda di kecamatan Lamboya.

KUDA DAN ANAK-ANAK

DSC_7340blog-small.jpg

Destinasi kami selanjutnya adalah lapangan Hopakalla, sebuah lapangan yang terletak di kecamatan Lamboya, Sumba Barat. Lapangan ini biasa digunakan untuk arena pacuan kuda dengan joki anak-anak. Kawasan adat berupa padang terbuka seluas 2 hektar yang terletak tepat di tepi jalan besar yang menghubungkan Waikabubak dengan desa-desa di Selatan (2km sebelum Marosi).

DSC_7378blog-small.jpg

Memiliki pemandangan yang nyaris lengkap: laut, sungai, lembah dan perbukitan yang menghampar dengan indahnya. Pada waktu tertentu kawasan ini digunakan warga Lamboya sebagai tempat pelaksanaan ritual Pasola dan pacuan kuda tradisional. Sementar di hari-hari biasa ada juga yang menggunakannya sebagai tempat menggembala kerbau.

DSC_7307blog-small.jpg

Cuaca juga sedikit mendung sehingga membuat udara saat itu tidak terasa terlalu panas dan gerah. Semua sudah berkumpul disebuah tribun kecil untuk melihat pacuan kuda ini. Tidak sengaja saya melihat mba Lydia Wijaya dari Transcorp yang sedang meliput acara ini berdiri melihat situasi sekeliling mengenakan kaos marun.

DSC_7304blog small.jpgBeberapa juga ada yang duduk di rerumputan termasuk nona Merry.

DSC_7315blog-small.jpg

Tampak seorang joki kecil sedang bersenda gurau dengan temannya sembari mengelus-elus kudanya. Menenangkan kuda mungkin menjadi salah satu cara untuk dapat memenangkan pertandingan ini.

DSC_7319blog-small.jpg

Tampak semua sudah bersiap. Ratusan pasang mata sudah tertuju pada joki pacuan kuda ini. Hitungan ke-3, seluruh joki langsung memacu kudanya dengan sangat cepat. Ya, cepat sekali. Yang saya kagum, mereka itu tidak mengenakan pelana. Konon mereka akan terjatuh dan tidak nyaman jika mengenakan pelana pada kudanya. Begitu menyatunya joki-joki kecil ini pada kuda mereka. Terlihat kembali mba Laura dan kru dari MNC TV sedang meliput kegiatan pacuan ini.

DSC_7333blog-small.jpgSemua mata mengikuti tiap gerakan kuda-kuda yang cepat sekali

DSC_7284blog-small.jpg

Joki-joki ini terus mengelilingi lapangan dengan sangat cepat. Terlihat sudah siapa yang akan menjadi juara. Maklum saja, kami semua saweran untuk memberikan hadiah kepada para pemenang perlombaan pacuan kuda ini.

DSC_7292blog-small.jpg

Sudah dapat dipastikan, anak berkaos hijau muda itulah yang menjadi pemenang siang itu. Semua bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepadanya. Pertandingan pun berakhir.

DSC_7399blog-small.jpg

Kami masih memiliki waktu sisa untuk dapat eksplor lapangan Hopakalla ini. Dan kami berjalan menuju sebuah kubur megalitikum di puncak bukit untuk melakukan ritual foto bersama. Hahaha.. Destinasi terakhir kami di Sumba Barat selanjutnya adalah pantai Marosi yang dari lapangan ini sudah jelas terlihat.

Advertisements

2 thoughts on “Budaya dan Tradisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s